Tante Asih Kekasihku

by Putri


Pondok PutriJudul : Tante Asih Kekasihku
Pengirim : M. Terry
Email : fxs.hadiprasojo@yahoo.co.id

Kisah ini berawal dari pertemuanku dengan tante Merry saat ia bekerja di sebelah rumahku. Tante Merry berumur 29 tahun beranak satu. Secara umum ia seperti wanita kebanyakan. Tetapi setelah aku mengenalnya, ternyata ia begitu kesepian dan butuh kehangatan seorang laki-laki.

Dari sering bertemu itu, aku selalu memperhatikannya. Gaya pakaian yang santai selalu aku temui. Satu kali dengan blue jeans, yang lumayan ketat dipadu dengan t-shirt warna ungu dengan belahan dada berbentuk V, jadi pandanganku. Sore itu tante Merry mampir di tokoku untuk membeli sesuatu. Saat membayar, badan tante Merry sedikit membungkuk ke maja kasirku. Sontak posisi ini membuat kaosnya bergeser ke bawah dan belahan dadanya nampak jelas. Aku melonggo melihat pemnadangan gratis itu. Tetek yang sangat montok dan mulus, walau hanya sebagian tepat di depanku. “Om kenapa sih kok tersenyum sendiri?’ kata tante Merry padaku. Aku pun menggodanya, “tuh buah tante bungkusnya ga muat, mau jatuh” kataku sambil tertawa kecil. Awalnya tante Merry tampak malu sekali dengan kejadian itu karena sebagian kewanitaannya yang paling berharga telah aku lihat, entah sengaja atau tidak. Tante pun lalu membetulkan kaosnya. Aku hanya tersenyum. sambil berbisik lirih saat memberikan uang kembalian,
“Tante, sexy banget”.

Waktu berjalan terus, dan kami sering bertemu, juga smsan dan telepon. Praktis akhirnya obrolan kami menjurus ke perselikuhan, TTM dan adegan ranjang. Dari sms dan obrolan ini, aku menangkap tante Merry cukup berani bahkan kadang menantang.

Akhirnya aku memberanikan untuk bertemu setelah sepakat menentukan waktu dan tempat. Sengaja aku pergi dengan naik motor. Kami meluncur menuju hotel kecil di pinggiran kota. Selesai check in kami pun langsung ngamar berdua. Tanpa ba bi bu terlalu banyak, aku langsung membuka pembuicaraan orang dewasa. Laki-laki dan wanita dalam satu kamar. Seks, itu pasti.

“Kemarin tante sengaja ya memperlihatkan tetknya, biar aku tergoda” kataku polos. “idih, enak aja, om aja yang mata keranjang” katanya centil sambil mencubitku. “Ya udah tak usah dibahas, kan sekarang kita sudah berduaan disini” kataku singkat. Jadi, ngapain lagi.

Sesaat kami terdiam, seakan ada keraguan kenapa kami sampai di kamar ini berdua padahal kami sama-sama punya pasangan yang sah. “Om, kita ini selingkuh ya?” tante Merry berbisik lembut. Aku tak menjawab. Kuraih tangannya, kuelus dan kupeluk. Tante Merry diam saja. Kubelai rambutnya, tante Merry juga hanya mendesis sambil tersenyum. Aku meneruskan dengan mencium keningnya, pipinya dan sesaat berhenti, sebelum kuraih dagu tante lalu kucium bibirnya yang sensual itu. Semula tante hanya diam dan masih menutup bibirnya. Ciumanku terus memburu dan akhirnya tante tak kuat, lalu menimpalinya. tante mulai membuka bibirnya dan kami berpagutan. Hangat sekali. Bibir kami makib basah. Lidah kami saling menjilat, menjulur dan mengulum. Tante Merry mulai menggeliat, terangsang. Geliatan itu membuat teteknya makin menempel ke tubuhku. Tak kusia-siakan semua itu. Segera kulucuti kancing bajunya dan, ehmmmm, benar-bener tetek yang indah, besar, putih dan kenyal. Tetek tante Merry sangat besar,
ukuran 36-B. Balutan kutang item semakin membuat nafsuku naik. Kuciumi kutang itu. Kutarik-tarik nakal tali kutangnya sebelum akhirnya ku plorotkan ke samping. Sengaja aku tak melepas kutang itu. Kini tetek itu sudah polos tanpa balutan kutang. Segera kuciumi teteknya dengan lembut. Kumain-mainkan lidahku yang basah di seputar pentilnya. Tante mulai kelojotan. Kuremas-remas gemas tetak itu, hingga tante kesakitan. “Pelan-pelan dong om, sakit” erangnya menahan remasanku. Aku tersenyum dan kembali mengulum pentil itu, kuisep-isep puting tante yang ranum kecoklatan. Tante makin terangsang.

Kuraih tangannya kuarahkan ke bagian tititku. Awalnya tante ragu tetapi lama-lama akhirnya tante pun menikmati. Tanpa terasa celanaku sudah terbuka. Tante Merry segera menyelipkan tangannya di balik CDku. Alammaak, kini tititku yang sudah menegang dielusnya, diremasnya. Enak sekali, aku pun mulai tak tahan. Tititku sudah ngaceng, tegang.

Ciumanku makin liar. Dari tetek, perut, lalu turun sampai ke pusar dan mendarat di selangkangan. tande hanya mendesah, nikmat. Kubuka celana tante dan kuciumi pahanya, selangkangannya dan juga CD itemnya. Perlahan-lahan tanganku meraba CD tante dan menyelipkan telunjukku untuk menekan memeknya. Saat ku tekan tante kaget hingga tersontak. Aku segera melucuti CD tante dan kembali, aku menikmati kewanitaanya yang sangat menggairahkan. Bibir sensual, tetek montok, dan kini memek yang nampak menyembul, pasti legit. Langsung kuciumi, kujelajahi seluruh selangkangannya. Tante ku rebahkan dan kusingkap pahanya. Dengan bebas kujilati memek tante yang sudah mulai membasah itu. Tante mengerang, ahh,,,uuhh,, aauww,,, saat jilatan lidahku menyentuh klitorisnya, itilnya. Jilatanku makin buas dan membuat tante benar-benar melayang. Tititku makin tegang dan sudah tak tahan segera ingin memikmati rongga memek tante yang menggoda itu.

Kutarik tangannya, dan akak berdiri. Kutatik tititku dan kuarahkan ke muka tante. “Tan, ayo dong gantian”. Tante tersenyum dan langsung menciumi kepala tititku yang polos itu. Tante terus menciuminya, menjilatinya dan akhirnya mengulumnya. Kuluma tante sungguh-sungguh hebat, membuatku kelojotan. Seluruh ototku serasa meregang.

Setelah puas mengoralku dengan kuluman, aku mengajak tante Merry untuk mengakhiri ronde pertama dengan oral sex gaya 69. Dengan buasnya aku jelajahi dengan jilatan seluruh memek tante Merry yang sudah basah dan memerah itu. Terkadang kugigit-gigit manja memeknya. Tante pun juga melakukan sama terus menjilati tititku, mengulumnya. Adegan ini terus berjalan sekian menit. Keringat kami membasahi seluruh tubuh. Tanganku dengan garang meremas bokong tante yang bahenol itu. Tante Merry terus mengulum tititku makin dalam. Maju mundur, hingga rasanya batang kontolku mau putus dan tertelan semuanya. Makin ke dalam, makin enak. Kini kuluman tante sudah berubah menjadi sedotan. Kontolku diisep-isepnya. Alamaaaak. Enak sekali. Aku makin tak tahan. Sesekali telunjukku ku masuknya ke memek tante yang membuat tante makin kelonjotan. Aku makin tak kelojotan. Air maniku rasanya hanya tingga sekian mili untuk muncrat. Aku ingin menumpahkannya di mulut sensual tante Merry semua. Aku sengaja ta
k memberi kode kalau aku mau klimaks. Kakiku kulingkarkan dilehernya hingga rasanya tante tak mungkin lepas. Kubuka memek tante untuk menembus klitorisnya, itilnya. Kujilat dengan buasnya dan aaauww,ahhh, uhhh,,, croooot…croooot…croottt. Air maniku pun tumpah di mulutnya tante. Tante Merry meronta dan hendak melepaskan tititku dari mulutnya, tetapi lingkaran kakiku membuatnya tak berdaya. Dengan sedikit menjepit leher itu maka tetap saja tititku dalam kuluman mulut tante. Pelan-pelan aku mulai melepaskan jilatan memek tante, aku menggeliat, puas sekali. Aku mencapai klimaks dengan menumpahkan seluruh air maniku ke mulut tante. Pelan-pelan kakiku kulepaskan dan tante Merry lemas kelelahan. Cepretan-cepretan air maniku nampak di sekitar bibirnya. Tante Merry terengah-engah bahkan mau muntah setelah menelan air maniku. “Om ini nakal, masak aku disuruh menelan semuanya?” protesnya. “Tapi tante suka kan, enak kan?” jawabku menggoda. lalu kucium tante Merry dengan mesra dan ka
mi terkulai lemas di ranjang. Kami berpelukan sambil tanganku meraba memeknya. “Tan, aku juga mau yang ini” godaku. Tante pun tersenyum. Kami istirahat beberapa saat sebelum akhirnya mandi bareng.

Di kamar mandi kami bukannya mandi tetapi justru making love ronde kedua. Busa-busa sabun yang wangi begitu menggairahkan. Dengan nakal kusabuni seluruh tubuh molek tante Merry. Punggungnya, dadanya, pahanya, semuanya. Kuremas-remas lembut teteknya yang dilumuri busa itu. Kuciumi leher dan telingganya. Tante Merry makin mengelinjang tanda birahinya sudah diubun-ubun. Tanganku terus menjelajahi pahanya, selangkangannya dan akhirnya kuraba lembut memek yang ditumbuhi jembut lebat itu. Kumasukkan dan kukilik-kilik memeknya dengan telunjukku. Tante Merry makin nafsu. Kutarik tangannya untuk meremas tititku yang juga sudah mulai bangun. kami pun siap untuk bertempur. Kubalikkan tubuh tante. Kuciumi bibirnya, lehernya, dan tentu kuisep-isep teteknya, pentilnya yang ranum mengacung itu. Kuraih muka tante dan kuarahkan untuk mengulum tititku dulu sebelum bertempur. Kami benar-benar sudah panas.

Kubalikkan tubuh tante lagi dan kuarahkan untuk menungging. Goggy style menjadi pilihank. Dengan berpegangan lantai meja rias kamar mandi, kuayunkan tititku yang sudah menegang itu ke lubang memek tante dari belakang. Sisa-sisa busa sabun menambah licinnya tititku saat menerobos memek itu. Bllesss…slepps… dengan mudah tititku menerobos memek tante Merry. Tante Merry nampak merem melek. Kini kami benar-benar bersatu. Tititku menerobos memel Tante Meery. Tante meronta, merasakan adanya benda tumpul menempus memeknya. Auuww. ahh,,, terus oom, genjot terus oom, yang dalam” pinta tante kepadaku. Dengan berpegangan pinggang tante yang ramping kuayun-ayunkan tititku maju mundur, kuputar-putar. Slepp…srett…slepp, enak sekali. Tanganku pun makin panas. Kucari tetek tante yang menegang itu dan kuremas-remas gemas. Kupilin-pilin pentilnya dan kadang aku pijit keras saking nafsunya. Tante pun mengerang, “Jangan dipijit oom, dipilin aja, ahh…ahh…” suara itu terus keluar dari m
ulut tante. Terkadang kulepas tititku dan kutusuk-tusukan di bokong nya sambil kuputar,,, auw enak sekali. Tante makin tak tahan. “Oom masukin lagi, cepetan, genjot lagi, aku mau nyampai nih?’ pintanya nafsu. Langsung saja kebenamkan lagi kontolku yang sudah memerah itu dalam-dalam. Blesss….sret… sleepp… Aku pun sudah mau nyampai. “Tan, kita keluar bareng ya biar enak” kataku lirih. “Ya, ayo genjot terus ooom, kocok lagi”. Aku pun makin ganas, aku raih tetek tante Merry dan kujadikan pegangan erat. Aku sudah mau nyampai. Goyangan tante Merry benar-benar seperti kuda binal. Bokongnya yang bahenol berputar-putar sungguh membuat sensasi making love makin nikmat. Tante terus bergoyang mengikuti ayunan tititku. Matanya mulai merem melek. Tante mulai menggigit bibirnya manahan rasa nikmat, dan,,, “Auuwww, ahhh,,,ahhhh ,,, ooooommmm” jerit tante Merry menandai bahwa ia telah klimaks. Selang beberapa detik, aku pun klimaks, Ahhhh,,,,auwww,,, ini buat tante Merry,,,, cccrooott,
,,croott,,,crott. Kami pun klimaks nyaris berbarengan.

Perlahan-lahan kulepaskan tanganku dari genggaman tetek tante. Tititku masih tertancap di memeknya. Tante mulai mendesah kenikmatan. Dari kaca cermin kulihat tante Merry begitu puas. Kuraba-raba punggung tante. Kubelai rambutnya dengan manja, dan kudekap tubuhnya yang penuh keringat dan busa itu. Tante Merry mulai menegakkan tubuhnya dan tititku mulai lepas dari memeknya. Ku balikan tubuh tante dan kupeluk hangat. Kucium keningnya, bibirnya, dan kubisikkan dengan lembut di telinganya. “Tante Merry, makasih ya, tante hebat dan memeknya legit banget” kataku memuji. “Om juga hebat, kalem, romantis, tapi jantan. Titit oom bener-bener besar dan membuatku puas” balasnya sambil tangannya meremas tititku yang mulai melemas itu.

Kami meneruskan mandi dan bobok-bobok siang kelonan di hotel itu. Kami saling bercerita ke sana kemari. Tersirat di wajah tante rasa menyesal karena mengkhianati suaminya tetapi berbaur kepuasan bercinta denganku. Lambat laun aku menjadi tahu bahwa tante Merry ternyata kesepian dan butuh kehangatan laki-laki dalam bercinta. Dari mulutnya terus mengalir rahasia keluarga dimana tante Merry hampir tak pernah mendapatkan kepuasan dalam bercinta dengan suaminya yang selalu konvensional. Masuk kamar, buka baju, masukin, keluar dan ditinggal tidur.

Mendengar itu, aku hanya diam. Kuraih tangan tante dan kupeluk hangat. “Mulai sekarang tante tak usah khawatir, kapan tante pengin ngeseks aku akan setia menemani tante” kataku berbisik. Tante Merry pun tersenyum lalu mencium bibirku dan memelukka manja. Kami bagaikan sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.

Waktu terus berjalan. Hampir seminggu sekali selalu kami check in di satu hotel ke hotel lainya. Permainan cinta kami semakin bervariasi. Tante Merry merasa mendapatkan semua yang selama ini belum dirasakan dari suaminya. menurutnya aku yang nampak kalem ternyata lembut, romantis dan itu membuat suka wanita. tetapi aku juga jantan dan perkasa. Aku juga memujinya, walau tante sudah punya anak, tetapi teteknya yang montok masih kencang, memeknya juga legit. Bokong bahenol dan bibir sensual melengkapi tubuhnya yang sexy dengan lekukan-lekukan itu. Kondisi ini membuat kami terus menjalin hubungan cinta terlarang ini. Termasuk saat tertentu tante aku manjakan dengan making love gaya sekretaris dan bos di kantor. Cukup dengan si bos duduk di kursi kerja dan membuka resleuting elananya, dan memangku sekretarisnya yang lagi terima telepon, dan cukup diplorotin CDnya, seks itu pun terjadi. Adegan itu ternyata sungguh-sungguh membuat tante Merry ketagihan.

Saat lain, aku ajak making love dengan gaya lain yang juga membuat tante Merry makin melayang-layang dan selalu ingin mengulanginya. Dengan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya dan bokong di angkat, ku benamkan tititku pelan-pelan dan hanyb aku masukin separo. Gaya “nggantung” ini sungguh-sungguh baru bagi tante Merry dalam bercinta. Kali lain aku ajak oral sek dengan menjepitkan tititku di belahan teteknya yang montok itu hingga menumcratkan air maniku di mukanya. Juga aku puaskan saat ia sedang make up dan kuciumi bokong dan memeknya hingga tante klimaks, dan masih banyak lagi. Kenangan dengan selalu aku pakaikan CD dan kutangnya makin membuat tante Merry tersanjung sebagai wanita dewasa yang butuh perhatian, belaian, dan kehangatan. Aku pun juga menyukai itu. Bercinta dengan wanita yang nampak kalem tetapi binal kalu di ranjang. Dan itu kudapatkan juga dari Tante Merry.
Pesananku sama tante Merry untuk selalu memakai pakaian sexy saat kencan pun selalu di penuhi. Kutang Triumph warna item, CD item mini, baju tipis selalu menjadikanku bergairah berkencan dengan tante Merry. Dan lebih dari kecakapannya menjaga kerahasiaan kami berdua, membuatku masih nyaman berselingkuh dengan tante Merry.

Kami terus bercinta. Selingkuh ini sudah terlalu dalam dan jauh. Kami tak tahu kapan akan berhenti. Ternyata kepergianku ke luar kota pun tak mampu menyurutkan perselingkuhan ini. Kami masih sepakatuntuk sama-sama memakai handphone yang sama. Kami pun melanjutkan dengan sex by phone setiap saat kami berkesempatan dan dang ingin bercinta, terutama saat kami mandi di tempat yang berjauhan.

Bibir sensual, tetek montok, putih, mulus dan kenyal dengan pentil yang ranum kecoklatan. Bokong yang bahenol dan memek yang legit milik tante Merry telah membuatku susah untuk melupakannya. Desahan manja, dan erangan yang memburu, membuatku selalu rindu untuk bertemu. Begitu juga, kelembutanku dan kejantananku dengan berbagai variasi bercinta telah membuat tante Merry tak ingin lepas dariku. Tante Merry kini seakan telah menjadi kekasih gelapku. Entah sampai kapan? Au ah gelap. Habis enak sih. Mau? Pengin? He…he…he…

TAMAT